09 Juni 2012

Smurf

Bicara soal Smurf, saya langsung teringat dengan sosok makhluk kecil lucu berwarna biru yang pernah saya baca dikomik ketika saya kecil. Nama-nama tokohnya menyesuaikan dengan karakter si tokoh. Dan beberapa masih saya hapal hingga kini seperti Papa Smurf sang pemimpin, Smurfin yang merupakan satu-satunya Smurf berjenis kelamin perempuan, Smurf Kacamata yang sok tau dan terlihat menyebalkan, Smurf Gerutu yang hoby nya menggerutu tiada habisnya, lalu ada Smurf genit yang tidak bisa dipisahkan dari cermin, Smurf Ceroboh yang karena kecerobohan terkadang suka menyusahkan orang lain, Smurf Gembul yang suka sekali makan, dan masih banyak karakter Smurf lainnya. Mereka bicara dengan bahasa smurf, yang selalu menggunakan kata smurf untuk menjelaskan sesuatu. Para Smurf ini tinggal di Desa Smurf dan mereka selalu bekerjasama satu dengan yang lainnya. Musuh abadi mereka adalah Gargamel dan kucingnya Azrael. 








Saking sukanya sama komik ini, saya nyaris mengkoleksi semua judul Komik Smurf. Hanya sayang, koleksi komik ini sekarang sudah lenyap tak berbekas. Dulu juga saya sempet berhayal bakal liat tokoh Smurf di filmkan, baik itu dalam bentuk serial kartun maupun film layar lebar. Dan saya berjanji akan bela-belain nonton dibioskop kalau sampai Smurf di bikin versi film layar lebar. Sayang sampai saya dewasa, harapan itu menguap entah kemana. Smurf hanya tinggal sejarah masa kecil saya.










Hingga akhirnya ketika saya jalan-jalan ke Kuala Lumpur bulan Juni lalu, saya sempat menonton Film disana dan melihat trailer film The Smurfs. Saya langsung membulatkan tekad untuk menonton film ini ketika diputar dibioskop Indonesia. Dan malam ini sepulang dari kantor saya menyempatkan diri mampir ke Pejaten Village XXI buat nonton film ini dan mewujudkan salah satu mimpi terbesar saya sejak suka pada pandangan pertama dengan Smurf. 








Pada intinya saya suka film The Smurfs ini. Meskipun sebelumnya saya sempat membaca beberapa review kalau film ini jelek, tidak membuat saya bergeming untuk datang ke bioskop dan menonton langsung. Dan setelah menontonpun menurut saya film ini bagus, meskipun tidak seperti yang saya bayangkan dan harapkan. Kalau saya pribadi sih maunya film ini tidak usah buru-buru ngambil setting di New York, saya lebih suka kalau keadaan di Desa Smurf yang masih tersimpan dengan baik di memori saya dari komik yang pernah saya baca dulu lebih ditonjolkan. Kalaupun ada hal-hal yang tidak ada dalam komik yang ingin ditampilkan mungkin lebih ke arah asal muasal Smurf dan kenapa Gargamel begitu bernafsu untuk memburu mereka. Tapi kembali lagi, itu cuma harapan saya pribadi loh. Hahahaha.. 



Kalau teman-teman yang dulu pernah menjadi fans berat Smurf, pernah mengkoleksi komik-komiknya, atau seperti saya yang pernah berharap bisa memelihara salah satu dari mereka dikamar. Saya rasa ngga ada salahnya untuk memasukkan film ini kedalam daftar film yang harus ditonton. Karena seperti pengalaman saya malam ini, penonton film ini lebih didominasi oleh orang-orang kantoran yang sudah berusia dewasa yang saya yakin niat mereka menonton tidak jauh berbeda dengan saya, yaitu untuk mengenang kembali masa lalu. Dan pastinya akan bertambah seru bila kita mengenang masa lalu sambil menularkan apa yang pernah kita suka kepada anggota keluarga kita yang mungkin belum pernah tahu akan kisah makhluk berwarna biru setinggi 3 buah apel bernama Smurf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar